Google+ Followers

Senin, 11 Februari 2013

MAKALAH PENDIDIKAN MANUSIA SEUTUHNYA


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Pendidikan sangat memerlukan penanganan secara terarah dan terpadu di semua pihak guna membangun manusia seutuhnya serta mencapai tujuan Pendidikan Nasional Indonesia. Pendidikan harus selaluh diupayakan untuk meningkatkan kemampuan setiap individu. Usaha untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut adalah melalui lembaga pendidikan liuar sekolah. Dimana dalam undung –undang pendidikan nomor 20 tahun 2003 Negara RI yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan Nasional yang tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman ..
Peningkatan mutu pendidikan adalah salah satu upaya dalam rangka pembangunan nasional . hal ini perluh dipandang karena pembangunan dibidang pendidikan merupakan salah satu kunci keberhasilan suatu bangsa, khususnya pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang mampu menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Untuk itu mutu pendidikan perluh diperhatikan sehubungan dengan itu, peningkatan sumberdaya manusia Indonesia yang ingin dicapai oleh suatu proses pendidikan, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen, bahwa pendidikan Nasional bertujuan Untuk “ Berkembangnya potensi peserta didik agar menajdi manusi yang berimana dan bertaqwa Kepada Tuhan Yang Esa, berakhalk mulia, sehat, berilmu, cakap, keraaktif,mandiri, dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.

I.2. Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian pendidikan manusia seutuhnya?
2.      Apasaja tujuan pendidikan manusia seutuhnya ?
3.      Bagaimana mengembangkan pendidikan manusia seutuhnya ?
4.      Mengapa sekarang ini sulit mengembangkan manusia seutuhnya ?
I.3. Tujuan
1.      Untuk mengetahui guna pendidikan manusia yang seutuhnya
2.      Untuk mengetahui tujuan pendidikan seutuhnya
3.      Mengetahui cara mengembangkan pendidikan manusia seutuhnya
I.4 Manfaat
            Manfaat yang kita peroleh dari pembuatan makalah ini yaitu kita dapat menegetahui serta memahami guna pendidikan manusia seutuhnya, serta diharapkan kita dapat mengembangkan cara pendidikan yang selama ini telah berlangsung di masyarakat pada umumnya.





















BAB II
PEMBAHASAN

II.1. Pengertian Pendidikan Manusia Seutuhnya
Manusia utuh berarti adalah sosok manusia yang tidak parsial, fragmental. Apalagi split personality. Utuh artinya adalah lengkap, meliputi semua hal yang ada pada diri manusia. Manusia menuntut terpenuhinya kebutuhan jasmani, rohani, akal, fisik dan psikisnya. Berdasarkan pikiran dimikian dapat diuraikan konsepsi manusia seutuhnya ini secara mendasar yakni mencakup pengertian sebagai berikut:
1.      Keutuhan potensi subyek manusia sebagai subyek yang berkembang.
2.      Keutuhan wawasan (orientasi) manusia sebagai subyek yang sadar nilai yang menghayati dan yakin akan cita-cita dan tujuan hidupnya.
Selain hal tersebut, manusia juga memerlukan pemenuhan kebutuhan spiritual, berkomunikasi atau berdialog dengan Dzat Yang Maha Kuasa. Lebih dari itu, manusia juga memerlukan keindahan dan  estetika. Manusia juga memerlukan penguasaan ketrampilan tertentu agar mereka bisa berkarya, baik untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri maupun orang lain. Semua kebutuhan itu harus dapat dipenuhi secara seimbang. Tidak boleh sebagian saja dipenuhi dengan meninggalkan kebutuhan yang lain. Orang tidak cukup hanya sekedar cerdas dan terampil, tetrapi dangkal spiritualitasnya. Begitu pula sebaliknya, tidak cukup seseorang memiliki kedalaman spiritual, tetapi tidak memiliki kecerdasan dan ketrampilan. Tegasnya, istilah manusia utuh adalah manusia yang dapat mengembangkan berbagai potensi posisitf yang ada pada dirinya itu.
Jika pemahaman terhadap manusia seutuhnya seperti itu, maka pendidikan seharusnya mengembangkan berbagai aspek itu. Pendidikan tidak tepat jika hanya mengembangkan satu aspek, tetapi melupakan aspek-aspek lainnya. Pendidikan agama adalah sangat penting, tetapi tidak boleh terlalu mengesampingkan intelektualitasnya. Sebaliknya juga tidak tepat pendidikan hanya mengedepankan pengembangan kecerdasan dan ketrampilan, dengan mengabaikan pengembangan spiritual.
Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia ditangani oleh dua kementerian, yaitu kementerian pendidikan dan kebudayaan dan kementerian agama. Selain itu,masih ada kementerian lain yang juga menyelenggarakan pendidikan, tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Itulah sebabnya di negeri ini disebut telah terjadi dualisme penyelenggaraan pendidikan. Yaitu terdapat sekolah yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan madrasah serta pondok pesantren yang berada di bawah Kementerian Agama. Di sekolah umum, sekalipun diajarkan agama.jumlah jam pelajaran yang disediakan tidak terlalu banyak. Demikian pula sebaliknya, di pondok pesantren lebih mengutamakan pendidikan agama, dan dalam banyak kasus tidak memberikan pengetahuan umum. Sedangkan di madrasah selama ini sudah dilakukan perbaikan kurikulum dengan memberikan pengetahuan umum dan agama secara seimbang, atau sama banyak jumlahnya. Namun begitu, terkait pendidikan agama, selama ini belum ditemukan metodologi yang dirasa memuaskan. Agama masih diajarkan dan belum sepenuhnya dididikkan yang sebenarnya. Sebetulnya, terbatasnya waktu yang disediakan untuk pendidikan agama di sekolah tidak mengapa, asalkan kekurangan itu dapat ditambal oleh lingkungan keluarga dan juga oleh masyarakat. Namun pada kenyataannya, pendidikan agama di keluarga maupun  di masyarakat sudah semakin melemah. Atas dasar alasan-alasan kesibukan orang tua atau juga keterbatasan pemahaman agama, maka pendidikan agama di lingkungan keluarga dan di masyarakat tidak dapat dimaksimalkan. Kegiatan mengaji di langgar, mushalla, masjid dan lain-lain tampaknya sudah semakin berkurang, tidak saja di perkotaan tetapi juga di pedesaan.
Kenyataan seperti itu menjadikan manusia yang utuh sebagaimana yang dicita-citakan semakin sulit dipenuhi. Pendidikan berjalan secara terpragmentasi atau terpilah-pilah, mengedepankan sebagian dan mengabaikan bagian lainnya. Akibatnya, manusia utuh sebagaimana yang dicita-citakan menjadi tidak jelas kapan akan berhasil diraih. Oleh karena itu, perlu kiranya dipikirkan secara saksama dan mendalam untuk mendapatkan konsep pendidikan yang dipandang lebih ideal un tuk menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik dan maju.
Menyoal dunia pendidikan, khususnya pendidikan yang membangun jati diri manusia seutuhnya, kiranya tidak akan berhenti. Berbagai kegiatan ilmiah seperti seminar, diskusi, lokakarya dan semiloka terus dilakukan guna mencari sebuah model pendidikan yang dianggap dapat membebaskan manusia dari sikap ketergantungan terhadap benda, pendidikan yang dapat membebaskan manusia dari pendewaan terhadap dunia, dan atau model pendidikan yang dapat mencetak manusia yang utuh, yakni manusia yang manusiawi, manusia memiliki nilai-nilai kemanusiaan.
Pendidikan manusia seutuhnya, pada dasarnya merupakan tujuan yang hedak dicapai dalam konsep Value Education atau General Education yakni: 1) manusia yang memiliki wawasan menyeluruh tentang segala aspek kehidupan, serta 2) memiliki kepribadian yang utuh. Istilah menyeluruh dan utuh merupakan dua terminologi yang memerlukan isi dan bentuk yang disesuaikan dengan konteks sosial budaya dan keyakinan suatu bangsa yang dalam bahasa lain pendidikan yang dapat melahirkan: a) pribadi yang dapat bertaqarrub kepada Allah dengan benar, dan b) layak hidup sebagai manusia.
Untuk dapat menghasilkan manusia yang utuh, diperlukan suri tauadan bersama antar keluarga, masyarakat, dan guru di sekolah sebagai wakil pemerintah. Patut diingat bahwa pembentukan jati diri manusia utuh berada pada tataran afeksi, dan pembelajarannya dunia afeksi hanya akan berhasil apabila dilakukan melalui metode pelakonan, pembiasaan, dan suri tauladan dari orang dewasa.
II.2. Pendidikan Manusia Seutuhnya
Prinsip pendidikan menusia seutuhnya berlangsung seumur hidup didasarkan atas berbagai landasan yang meliputi :
1.      dasar-dasar filosofis
Filosofis hekekat kodrat martabat manusia merupakan kesatuan integralsegi-segi(potensi-potensi): (esensial): Manusia sebagai makhluk pribadi (individualbeing),Manusia sebagai makhluk social (sosialbeing), Menusia sebagai makhluk susila (moralbeing).
Ketiga potensi diatas akan menentukan martabat dan kepribadian menusia. Jika ketiga potensi itu dilaksanakan secara seimbang, maka akan terjadi kesenambungan.
2.      Dasar-Dasar Psikofisis
Merupakan dasar-dasar kejiwaan dan kejasmanian manusia. Realitas psikofisis manusia menunjukkan bahwa pribadi manusia merupakan kesatuan antara potensi-potensi dan kesadaran rohaniah baik dari segi pikis, rasa, karsa, cipta, dan budi nurani.


3.      Dasar-Dasar Sosial Budaya
Meskipun manusia adalah makhluk ciptaan tuhan namun manusia terbina pula oleh tata nilai sosio-budaya sendiri.Inilah segi-segi buhaya bangsa dan sosio psikologis manusia yang wajar diperhatikan oleh pendidikan.
Dasar-dasar segi sosio budaya bangsa mencakup: Tata nilai warisan budaya bangsi seperti nilai keutuhan, musyawarah, gotong royong dan tenggang rasa yang dijadikan sebagai filsafat hidup rakyat. Nilai-nilai filsafat, Negara yakni pancasila Nilai-nilai budaya nasional, adat istiadat dan lain-lain. Tata kelembagaan dalam hidup kemasyarakatan dan kenegaraan baik bersifatformalmaupunnonformal.
III.3. Tujuan Pendidikan Manusia Seutuhnya
Tujuan untuk pendidikan manusia seutuhnya dengan kodrat dan hakekatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin. Adapun aspek  pembawaan(potensi manusia)meliputi:
 - Potensi jasmani, yaitu fisiologis dan pancaindra
 - Potensi rohaniah, yaitu psikologis dan budi nurani
Dengan mengembangkan potensi-potensi tersebut dengan sikap positif dan mendasar akan mencapai kesinambungan.
   Pada dasarnya, pendidikan di semua intuisi dan tingkat pendidikan mempunyai muara tujuan yang sama, yaitu ingin mengantarkan masyarakat menjadi manusia paripurna yang mandiri dan dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan lingkungannya. Dalam system pendidikan Indonesia, tujuan pendidikan tersebut secara eksplisit dapat dilihat pada UU RI nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta peraturan-peraturan pemerintah yang berkaitan dengan UU tersebut.
            Secara umum tujuan pendidikan di Indonesia sudah mencangkup tiga ranah perkembnagan manusia, yaitu perkembangan afektif, psikomotor, dan kognitif. Tiga ranah ini harus dikembangkan secra optimal dan integrative. Berimbnag artinya ketiga ranah tersebut dikembnagkan dengan intensitas yang sama, proporsional dan tidak berat sebelah. Optimal maksudnya dikembangkan secara maksimal sesuai dengan potensinya. Integrative artinya pengembangan ketiga ranah tersebut dilakukan secara terpadu.
            Dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional dan cita-cita mencerdaskan  kehidupan bangsa serta sejalan dengan visi pendidikan nasional, Kemendiknas mempunyai visi 2025 untuk menghasilkan Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif (Insan Kamil/Insan Paripurna). Yang dimaksud dengan Insan Indonesia cerdas adalah Insan yang cerdas komperhensif, yaitu cerdas spiritual, cerdas emosional, cerdas sosial, cerdas intelektual, dan cerdas kinetis.









BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa:
1.       Hakikat manusia adalah manusia yang berkepribadian utuh yang dapat   menyeleraskan, menyeimbangkan, dan menyerasikan aspek manusia sebagai makhluk individu, sosial, religius, bagian dari alam semesta, bagian dari bangsa-bangsa lain, dan kebutuhan untuk mengejar kemajuan lahir maupun kebahagiaan batin.
2.      Hakikat pendidikan adalah upaya sadar memanusiakan manusia muda untuk mencapai kedewasaan atau menemukan jati dirinya yang berlangsung seumur hidup atau sepanjang hayat.
3.      Hakikat tujuan pendidikan adalah mengantarkan anak manusia menjadi manusia paripurna yang mandiri dan dapat bertanggung jawab atas dirinya sendiri dan lingkungannya

       III. 2 Saran
1.      Pengelolaan pendidikan harus memperhatikan hakikat manusia sebagai subjek pendidikan. Kesalahan dalam memilih pendekatan pendidikan yang tidak sesuai dengan hakikat manusia akan membawa kerusakan dan kesia-siaan
2.      Proses pendidikan untuk mendewasakan manusia hendaknya tidak dibatasi oleh waktu, intuisi, atau kepentingan-kepentingan lain yang tidak relevan dengan tujuan pendidikan.
3.      Pemangku kepentingan dan pemerintah harus hati-hati dan cermat dalam menentukan tujuan pendidikan nasional karena akan menentukan arah pendidikan secara keseluruhan.
4.      Pendidik dan semua orang yang mempunyai kepentingan dengan pendidikan harus memperhatikan hakikat manusia, hakikat pendidikan, dan hakikat tujuan pendidikan.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA



1 komentar:

  1. Hakekat manusia seutuhnya adalah kembali ke titik nol, kembali ke awal mula maksud dan tujuan Tuhan YME menciptakan manusia sebagai wakilnya di bumi, sebagai khalifah atau pemimpin yang transenden di atas bumi, kunjungi blog mahesa kariban.wordpress.com

    BalasHapus